Panggung Premier League musim 2025/2026 seharusnya menjadi saksi bisu keganasan Viktor Gyökeres. Setelah saga transfer musim panas yang melelahkan, Arsenal akhirnya berhasil mengamankan tanda tangan bomber asal Swedia ini dengan mahar mencapai 56 juta poundsterling. Namun, memasuki pertengahan musim, publik Emirates Stadium masih menahan napas; sang striker belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi setinggi langit yang dibebankan di pundaknya.

Hingga pekan ini, Gyökeres tercatat telah melakoni 21 pertandingan di seluruh kompetisi bersama The Gunners. Koleksi tujuh gol memang bukan catatan yang buruk bagi pemain baru, namun bagi tim yang sedang berburu gelar juara dan pemain dengan label harga selangit, angka tersebut dianggap masih “kering”.

Analisis Gary Lineker: Seni Berjudi di Kotak Penalti

Legenda sepak bola Inggris, Gary Lineker, menyoroti ada yang salah dengan insting predator Gyökeres sejak mendarat di London. Melalui ulasannya di Talksport, Lineker menilai bahwa Gyökeres terlalu “sopan” dalam membaca arah permainan.

“Saya memperhatikan pergerakannya secara detail dalam beberapa pekan terakhir. Masalah utama Gyökeres adalah dia cenderung menunggu bola datang. Dia bergerak setelah melihat arah bola, dan itu adalah makanan empuk bagi pemain bertahan lawan,” ujar pencetak gol terbanyak Piala Dunia 1986 tersebut.

Menurut Lineker, menjadi striker elit bukan hanya soal kecepatan fisik, melainkan kecepatan pikiran. Striker harus melakukan “perjudian” — menebak ke mana bola akan dikirimkan sebelum umpan silang dilepaskan. Jika seorang penyerang bergerak bersamaan dengan arah bola, bek Premier League yang atletis akan selalu memiliki waktu untuk menutup ruang tersebut.

Baca Selengkapnya:
Kebangkitan “Era Baru” Anfield: Liverpool Siap Terjang Leeds United

Belajar dari “The New DCL” di Leeds United

Menariknya, Lineker justru memberikan contoh yang cukup mengejutkan sebagai bahan pelajaran bagi Gyökeres. Ia menunjuk Dominic Calvert-Lewin, yang kini memperkuat Leeds United, sebagai prototipe striker yang memiliki pergerakan tanpa bola yang cerdas.

Lineker merujuk pada gol terbaru Calvert-Lewin saat Leeds menghadapi Sunderland. Dalam proses gol tersebut, Calvert-Lewin tidak menunggu umpan matang. Sebaliknya, ia melakukan sprint eksplosif ke arah tiang dekat (near post) tepat sebelum bola ditendang oleh pemberi assist.

“Calvert-Lewin tidak menunggu. Dia langsung mengambil keputusan, berlari kencang, dan memaksa bola untuk menemukannya di titik tersebut. Inilah yang belum saya lihat secara konsisten dari Gyökeres di Arsenal,” tambah Lineker.


Mengapa Adaptasi Gyökeres Terasa Lambat?

Ada beberapa faktor taktis yang menyebabkan transisi Gyökeres dari Sporting CP ke Premier League tidak semulus yang dibayangkan:

  1. Perbedaan Intensitas Transisi: Di Portugal, Gyökeres sering mendapatkan ruang terbuka luas untuk melakukan dribble panjang. Di Arsenal, ia menghadapi blok rendah (low block) hampir di setiap pekan, di mana ruang geraknya dibatasi oleh dua hingga tiga pemain lawan sekaligus.
  2. Sinergi dengan Saka dan Martinelli: Sebagai ujung tombak dalam sistem Mikel Arteta, Gyökeres dituntut untuk melakukan link-up play yang lebih kompleks. Fokusnya terkadang terbagi antara turun menjemput bola atau tetap berada di kotak penalti sebagai finisher.
  3. Beban Psikologis Harga Transfer: Mengenakan nomor punggung keramat dan datang dengan nilai transfer besar memberikan tekanan mental tersendiri. Setiap peluang yang terbuang kini menjadi sorotan tajam media-media Inggris.

Statistik yang Perlu Diperbaiki

Jika membedah data Expected Goals (xG), Gyökeres sebenarnya mendapatkan peluang yang cukup. Namun, efisiensi penyelesaian akhir dan timing lari adalah dua aspek yang membuat xG tersebut tidak terkonversi menjadi gol nyata.

Dibandingkan dengan Calvert-Lewin di Leeds yang musim ini tampil lebih klinis meski bermain di tim dengan penguasaan bola lebih rendah, Gyökeres terlihat sering terlambat satu detik dalam memotong umpan silang mendatar yang menjadi ciri khas serangan sayap Arsenal melalui Bukayo Saka.

Mikel Arteta dikenal sebagai pelatih yang sangat detail dalam aspek posisi (positional play). Saran dari Lineker kemungkinan besar sudah ada dalam catatan taktis Arteta. Tantangan bagi Arsenal adalah bagaimana melatih kembali insting “antisipasi” Gyökeres agar ia berhenti menjadi pengikut bola dan mulai menjadi penjemput bola.

The Gunners membutuhkan versi terbaik Gyökeres jika ingin bersaing dengan Manchester City atau Liverpool di jalur juara. Dengan jadwal padat di bulan-bulan mendatang, termasuk fase gugur Liga Champions, ketajaman Gyökeres akan menjadi penentu apakah investasi 56 juta pounds ini merupakan kesuksesan besar atau justru menjadi beban finansial.

Kesimpulannya, Gyökeres memiliki semua alat fisik untuk menjadi striker terbaik di dunia: kekuatan, kecepatan, dan tendangan akurat. Namun, seperti yang disarankan Lineker, ia perlu sedikit “bersabar” dan lebih berani mengambil risiko di dalam kotak penalti. Jika ia bisa meniru determinasi Calvert-Lewin dalam menyerang ruang kosong, bukan tidak mungkin keran golnya akan mengalir deras di sisa musim ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *