
MANCHESTER – Drama di Teater Impian mencapai titik didihnya pada Senin (5/1/2026) sore WIB. Manchester United (MU) secara resmi mengumumkan pemutusan hubungan kerja terhadap manajer mereka, Ruben Amorim. Pemecatan ini bukan sekadar buntut dari hasil imbang 1-1 yang mengecewakan saat melawan Leeds United, melainkan puncak dari konfrontasi verbal yang meledak antara sang pelatih dengan jajaran petinggi klub.
Amorim, yang datang pada November 2024 dengan reputasi sebagai penyelamat, justru meninggalkan Old Trafford lewat pintu belakang sembari melepaskan “peluru” terakhir yang menggetarkan fondasi klub.
Hasil Imbang yang Menjadi Pemicu, Komentar yang Menjadi Palu
Laga melawan Leeds United seharusnya menjadi momen bagi MU untuk bangkit. Namun, skor 1-1 yang terpampang di papan skor justru menjadi cerminan stagnansi performa Setan Merah di bawah asuhan pria asal Portugal tersebut. Namun, bukan skor itu yang paling melukai manajemen, melainkan wawancara pasca-pertandingan Amorim yang dianggap sebagai bentuk “pemberontakan” terbuka.
Amorim secara terang-terangan mengindikasikan adanya disfungsi di level manajerial, terutama perselisihannya dengan Direktur Olahraga, Jason Wilcox. Dalam komentarnya yang pedas, Amorim menegaskan bahwa dirinya tidak akan mundur secara sukarela, menantang dewan klub untuk mengambil keputusan drastis.
“Keadaan akan tetap seperti ini sampai dewan memutuskan untuk berubah. Saya tidak akan mengundurkan diri. Saya akan melakukan pekerjaan saya sampai ada orang lain yang datang menggantikan saya,” ujar Amorim ketus, sebagaimana dilansir dari Daily Star. Kalimat ini dianggap sebagai pernyataan perang terhadap struktur baru yang dibangun INEOS.
Baca Juga:
Villa Park Berpesta: Magis John McGinn dan Rekor Kandang Unai Emery
Membawa Nama Gary Neville dalam Pusaran Konflik
Salah satu bagian paling mengejutkan dari komentar Amorim adalah ketika ia menyeret nama legenda klub sekaligus komentator vokal, Gary Neville. Selama ini, Neville dikenal sebagai kritikus paling tajam terhadap setiap manajer yang gagal di MU. Amorim tampaknya merasa bahwa tekanan dari pihak luar, termasuk kritik dari para legenda, telah meracuni atmosfer kerja di klub.
“Jika orang-orang tidak dapat menerima Gary Neville dan kritik terhadap segala hal, kita perlu mengubah klub ini,” tambah Amorim. Komentar ini menyiratkan bahwa manajemen MU terlalu sensitif terhadap opini publik dan kritik mantan pemain, sehingga seringkali mengambil keputusan yang tidak berdasar pada kebutuhan teknis di lapangan.
Lebih jauh lagi, Amorim mengkritik pembagian kerja di Old Trafford. Ia merasa perannya dikebiri dan hanya dijadikan “pelatih kepala” tanpa wewenang penuh dalam kebijakan transfer dan pengembangan skuad.
“Saya datang ke sini untuk menjadi manajer Manchester United, bukan hanya untuk menjadi pelatih. Setiap departemen—pencari bakat, direktur olahraga—perlu melakukan pekerjaan mereka dengan benar,” tegasnya. Ucapan ini secara implisit menuduh departemen lain dalam klub tidak becus menjalankan tugas mereka, sehingga beban kegagalan hanya ditimpukan ke pundaknya.
Statistik yang Menghakimi: 63 Laga Penuh Gejolak
Meskipun Amorim mengeluhkan sistem, statistik penjualannya di lapangan memang sulit untuk dibela. Sejak menjabat pada akhir 2024, Amorim telah memimpin Setan Merah dalam 63 pertandingan. Hasilnya jauh dari kata memuaskan bagi klub sebesar Manchester United:
- Kemenangan: 25 kali
- Kekalahan: 23 kali
- Imbang: 15 kali
Dengan persentase kemenangan yang tidak mencapai 40 persen, posisi Amorim memang sudah berada di ujung tanduk sebelum komentar pedasnya mencuat. Kekalahan yang hampir setara dengan jumlah kemenangan menunjukkan bahwa taktik tiga bek yang menjadi andalannya di Sporting CP gagal direplikasi secara konsisten di kerasnya Premier League.
Pemecatan ini menandai kegagalan kesekian kalinya Manchester United dalam mencari suksesor jangka panjang bagi Sir Alex Ferguson. Ruben Amorim yang semula diharapkan membawa nuansa segar dan disiplin taktis ala Eropa daratan, justru terjebak dalam pusaran politik internal klub yang rumit.
Petinggi klub kabarnya merasa dikhianati oleh komentar Amorim. Bagi Jason Wilcox dan kolega, mengkritik departemen pencari bakat dan struktur olahraga secara publik adalah pelanggaran disiplin berat yang tidak bisa dimaafkan. Senin sore itu, surat PHK pun ditandatangani.
Kini, Manchester United kembali berada di titik nol. Di saat para rival seperti Manchester City dan Liverpool terus melaju, Setan Merah harus kembali berburu manajer baru yang tidak hanya ahli dalam strategi, tetapi juga mampu menavigasi ego dan tekanan besar di Carrington.
Siapapun penggantinya nanti, ia akan mewarisi skuad yang terluka dan manajemen yang tengah menjadi sorotan akibat kritik terbuka Amorim. Old Trafford kini menanti: apakah pemecatan ini akan membawa perubahan nyata, atau justru hanya menjadi pengulangan siklus kegagalan yang sama?