Piala Super Spanyol (Supercopa de España)
Panggung megah King Abdullah Sports City di Jeddah, Arab Saudi, kembali bersiap menjadi saksi bisu bentrokan dua kekuatan terbesar sepak bola dunia. Barcelona dan Real Madrid akan kembali berhadapan dalam partai puncak Piala Super Spanyol (Supercopa de España) 2026 pada Senin dini hari (12/1) WIB. Namun, El Clasico kali ini membawa narasi yang sedikit berbeda: mampukah Hansi Flick mempertahankan hegemoni “superioritasnya” atas Madrid, ataukah Xabi Alonso akhirnya menemukan formula untuk meruntuhkan tembok Catalan?
Era “Flick-ismo” yang Menghantui Madrid
Sejak Hansi Flick menginjakkan kaki di Ciutat Esportiva Joan Gamper pada musim panas 2024, dinamika persaingan dua raksasa Spanyol ini mengalami pergeseran tektonik. Barcelona, yang sebelumnya sempat kesulitan mengimbangi kedalaman skuad Madrid, bertransformasi menjadi mesin gol yang efisien dan mematikan.
Statistik tidak berbohong. Dalam lima pertemuan terakhir di bawah kendali Flick, Barca berhasil mengamankan empat kemenangan. Yang paling membekas tentu saja memori setahun silam di tempat yang sama, saat Barcelona mempermalukan Real Madrid dengan skor telak 5-2 di final Piala Super Spanyol 2025. Kemenangan tersebut bukan sekadar raihan trofi, melainkan pernyataan bahwa Barcelona telah kembali ke puncak rantai makanan sepak bola Spanyol.
Total 17 gol yang disarangkan Barca ke gawang Madrid dalam lima laga terakhir menunjukkan betapa rapuhnya pertahanan Los Blancos saat menghadapi skema high-pressing dan transisi kilat ala pelatih asal Jerman tersebut.
Baca Juga:
El Clasico di Tanah Arab: Barcelona Vs Real Madrid Final Piala Super Spanyol 2026
Luka di Bernabeu dan Kebangkitan Xabi Alonso
Meski Barcelona terlihat dominan di atas kertas, Real Madrid datang ke Jeddah bukan tanpa modal. Mereka membawa satu-satunya kemenangan di musim ini sebagai pengingat bahwa si “Putih” belum habis. Pada Oktober 2025 lalu, dalam Jornada ke-10 LaLiga, taktik Xabi Alonso berhasil meredam agresivitas Barca dengan kemenangan tipis 2-1 di Santiago Bernabeu.
Xabi Alonso, yang kini menakhodai Madrid, tampaknya telah menemukan keseimbangan yang dibutuhkan. Madrid memasuki final ini dengan tren yang sangat positif—menyapu bersih lima pertandingan terakhir mereka di semua kompetisi dengan kemenangan. Mentalitas juara inilah yang seringkali menjadi pembeda dalam laga satu leg seperti final Piala Super.
“Ini adalah final. Apapun bisa terjadi dalam 90 menit atau lebih. Kami tidak terpaku pada masa lalu, kami hanya fokus pada strategi untuk pertandingan besok,” ujar Xabi Alonso dalam konferensi pers sebelum laga.
Bedah Taktik: Mengapa Barca Diunggulkan?
Barcelona layak menyandang status unggulan karena beberapa faktor kunci:
-
Ketajaman Lini Depan: Dengan rata-rata lebih dari 3 gol per pertandingan melawan Madrid, lini depan Barca sangat fasih dalam mengeksploitasi celah di antara bek tengah Madrid.
-
Psikologis Final: Kemenangan 5-2 tahun lalu memberikan keunggulan mental. Para pemain muda Barca seperti Lamine Yamal dan Gavi kini memiliki kepercayaan diri tinggi saat berhadapan dengan nama-nama besar di skuad Madrid.
-
Fleksibilitas Flick: Flick mampu mengubah gaya main dari penguasaan bola dominan menjadi serangan balik yang sangat vertikal, membuat Madrid seringkali terlambat melakukan transisi bertahan.
Rekam Jejak 5 Duel Terakhir (El Clasico Era Flick)
Melihat sejarah terbaru, persaingan ini sangat produktif dalam hal gol. Jarang sekali El Clasico berakhir dengan skor kacamata di era sekarang.
| Tanggal | Kompetisi | Hasil | Catatan Kunci |
| 26 Okt 2025 | LaLiga | Real Madrid 2-1 Barcelona | Kemenangan perdana Alonso atas Flick |
| 11 Mei 2025 | LaLiga | Barcelona 4-3 Real Madrid | Drama tujuh gol di Camp Nou |
| 24 Apr 2025 | Copa del Rey (Final) | Barcelona 3-2 Real Madrid | Barca raih trofi kedua musim lalu |
| 12 Jan 2025 | Piala Super (Final) | Real Madrid 2-5 Barcelona | Pesta gol di Jeddah |
| 26 Okt 2024 | LaLiga | Real Madrid 0-4 Barcelona | Debut Clasico Flick yang menghancurkan |
Prediksi Pertandingan
Pertandingan hari Senin nanti diprediksi akan berjalan sangat intens. Madrid kemungkinan besar akan bermain lebih pragmatis, mencoba menyerap tekanan Barca dan mengandalkan kecepatan Vinicius Jr atau Rodrygo di sisi sayap. Di sisi lain, Barcelona akan mencoba mengendalikan ritme sejak menit pertama.
Jika Barcelona mampu mencetak gol cepat seperti di final tahun lalu, Madrid mungkin akan kesulitan untuk bangkit. Namun, jika Madrid mampu menjaga skor tetap ketat hingga menit ke-70, pengalaman kolektif Los Blancos dalam situasi tertekan bisa menjadi mimpi buruk bagi pertahanan tinggi Barca.
Apapun hasilnya, publik Jeddah dan jutaan pasang mata di dunia akan disuguhi tontonan sepak bola kelas atas. Apakah trofi akan kembali ke Catalunya, ataukah Xabi Alonso akan mempersembahkan gelar Supercopa pertamanya untuk publik Madrid? Jawabannya akan tersaji di lapangan hijau.